Celoteh Anda

Dari      : pencarian :   Nickname   /     Perihal    /    Pesan
Perihal  :
Pesan   :
 

           dalam kebaikan pasti ada keindahan

Dim Had

Dari 

:

tolol

Perihal

:

pasrah

Pesan

:

kenapa gak usah dibahas??? ada juga anda gak usah baca teman gak usah terlibat diskusi mengenai tirai kasih.... itu lebih baik buat anda..

Dari 

:

pasrah

Perihal

:

web tirai kasih

Pesan

:

Utk web tirai kasih yg ngambek, sudahlah gak usah lagi dibahas disini. Mau buka boleh, mau tutup ya monggo. Yg penting dimhad, indozone, abukeisel, mygrafity dll masih tetep buka....

Dari 

:

penggemar

Perihal

:

tiraikasih kanzusi

Pesan

:

tiap aku masuk,mau liat and download.ga bisa,selalu kluar...
Not Found

The requested URL /Silat_Mandarin_Full.htm was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.
ada yg tau ga solusi nya...

Dari 

:

Dimhad

Perihal

:

ass wr wb

Pesan

:

kalau saya habis wudhu, saya selalu berdo'a :
- Ya Allah jadikanlah aku sebagai hambamu yang suci,
- Ya Allah jadikanlah aku sebagai hambamu yang taqwa kepadaMu,
- Ya Allah jadikanlah aku sebagai hambamu yang sabar.

Dari 

:

sing80

Perihal

:

otoy

Pesan

:

nanti aja bung otoy, saya tunggu project tirai kasih dulu :)

Dari 

:

badai

Perihal

:

turun gunung

Pesan

:

moga-moga dewikz cepet turun gunung dan membuat damai lagi dunia persilatan....hehehehehe

Dari 

:

sing80

Perihal

:

otoy

Pesan

:

nanti ada bung otoy, saya tunggu project tirai kasih dulu :)

Dari 

:

ebooker

Perihal

:

TC 2

Pesan

:

Ketakutan Danny lenyap seketika.
Tepuk tangan itu seolah tak kunjung henti.
Ketika dia, membungkuk dan membalik untuk menjabat tangan gurunya, Danny tercengang melihat air mata di mata pria lanjut usia itu.
Dr. Landau memeluk anak didiknya.
"Kau tahu, Dan, kau membuatku sangat bangga."
Dalam keadaan normal, seorang anak lelaki yang sudah sekian lama mendambakan cinta kasih kebapakan, akan melambung mendapat pujian seperti itu. Tapi malam itu, Daniel Rossi telah mabuk oleh gejolak perasaan baru: sanjungan dari khalayak ramai.
Sejak masuk sekolah menengah atas, Danny sudah menetapkan niatnya untuk kuliah di Harvard sehingga dia bisa belajar komposisi pada Randall Thompson, pemimpin paduan suara, dan Walter Piston, komposer simfoni yang sangat ahli. Niat itu sudah cukup untuk memacu semangatnya dalam menggeluti ilmu alam, matematika, dan tata negara.
Karena alasan-alasan sentimental, Dr. Rossi ingin putranya masuk Princeton, universitas yang dibanggakan F. Scott Fitzgerald. Dan yang sebenarnya akan menjadi almamater Frank.
Tetapi Danny bergeming terhadap segala bujukan. Akhirnya, Art Rossi menghentikan usahanya.
"Aku angkat tangan terhadapnya. Biarlah anak itu memilih jalannya sendiri."
Namun, terjadi sebuah peristiwa yang menggoyahkan sikap "apa yang terjadi—terjadilah" sang dokter gigi. Pada tahun 1954, Senator McCarthy yang ambisius mengarahkan penyelidikannya pada kecenderungan politis Harvard. Sejumlah guru besar universitas itu menolak bekerja sama dengan komite penyelidik maupun membicarakan aliran politik rekan-rekan mereka.
Lebih celaka lagi, Rektor Harvard, Dr. Pusey yang keras kepala, menolak untuk memecat mereka sebagaimana tuntutan Joe McCarthy.
"Nak," Dr. Rossi bertanya dengan nada suara makin tinggi,
20
"bagaimana bisa, orang yang kakaknya tewas karena melindungi kita dari komunisme, mau masuk ke lembaga semacam itu?"
Danny tetap bungkam. Apa gunanya menjawab bahwa musik tidak bersifat politis?
Sementara Dr. Rossi berkeras dengan keberatannya, ibu Danny berusaha sekuat tenaga untuk tidak memihak. Dengan demikian, Dr. Landau menjadi satu-satunya tempat Danny membicarakan dilemanya.
Orang tua ini bersikap sangat hati-hati. Namun dia mengaku kepada Danny, "Si McCarthy ini membuatku takut. Kau tahu, di Jerman, awalnya juga seperti ini."
Dia terdiam dengan perasaan tak enak, sakit oleh kenangan-kenangan yang tak kunjung hilang.
Kemudian, dia melanjutkan perlahan-lahan, "Daniel, seluruh negeri merasa cemas. Senator McCarthy mengira dirinya bisa mendikte Harvard, memerintahkan siapa yang harus dipecat dan sebagainya. Kukira, rektor mereka telah menunjukkan keberanian luar biasa. Sebenarnya, aku berharap bisa menyatakan kekagumanku padanya."
"Bagaimana cara Anda menyatakannya, Dr. Landau?" Ia membungkuk sedikit ke depan, ke arah anak didiknya yang berbakat dan berkata, "Aku ingin mengirimmu kepada mereka."
Pertengahan Mei tiba dan bersamaan dengan itu, datang pula surat-surat penerimaan. Princeton, Harvard, Yale, dan Stanford. Semua menginginkan Danny. Bahkan, Dr. Rossi terkesan—meskipun dia khawatir anaknya akan melakukan pilihan yang salah sama sekali.
Hari bencana itu datang pada akhir pekan, ketika dia memanggil Danny ke kamar kerjanya yang berlapis kulit cordova, dan melontarkan pertanyaan yang paling menegangkan.
"Benar, Dad," jawab Danny acuh tak acuh. "Aku akan ke Harvard."
Suasana hening mencekam.
Sampai sekarang, Danny tanpa sadar menyimpan harapan bahwa
21
apabila ayahnya melihat ketangguhan keyakinannya, pada akhirnya dia akan mengalah.
Tetapi Arthur Rossi keras seperti batu.
"Dan, ini negara bebas. Kau berhak masuk ke perguruan tinggi mana pun yang kauinginkan. Tapi, aku pun bebas untuk menyatakan ketidaksetujuanku. Jadi, aku memilih untuk tidak membayar sepeser pun biaya hidupmu. Selamat, Nak, kau berdiri di atas kakimu sendiri. Kau bisa saja menyatakan kebebasanmu."
Sesaat Danny merasa bingung dan limbung. Lalu, ketika dia mengamati wajah ayahnya, dia mulai mengerti bahwa soal McCarthy hanyalah basa-basi belaka. Pada dasarnya, Art Rossi memang tidak peduli sama sekali terhadap dirinya.
Dan, dia sadar bahwa dia harus menghapus keinginannya yang kekanak-kanakan. Keinginan untuk diterima dengan baik oleh ayahnya.
Sebab, kini dia tahu bahwa dia tak akan mendapatkannya. Tak akan pernah.
"Oke, Dad," bisik Danny parau, "kalau memang itu yang kauinginkan..."
Dia berbalik dan meninggalkan kamar tanpa berkata apa-apa lagi. Dari balik pintu yang tebal, dia mendengar bunyi pukulan keras di meja ayahnya.
Tapi anehnya, dia merasa bebas.
22
TASON GILBERT. TR
kegembiraan adalah senandungnya dan kegembiraan begitu murni bintang pun tunduk padanya begitu murni sehingga kini dan kini telapak-telapak senja akan bergembira.
dagingnya adalah daging darahnya adalah darah;
tak seorang kelaparan pun yang tak mengharapkan makanan baginya;
tak seorang lumpuh pun yang tak bersedia merangkak satu mil
ke atas bukit hanya untuk melihatnya tersenyum.
E.E. CUMMINGS KELAS 1915
DIALAH si Anak Emas. Laksana Dewa Apollo, tampan, pirang, dan jangkung dengan daya tarik yang disukai kaum wanita dan dikagumi kaum pria. Dia menonjol di setiap olahraga yang dimainkannya. Para guru menyayanginya, sebab kendati sangat populer, sikapnya sopan dan santun.
Pendek kata, dialah pemuda langka yang diimpikan setiap orang-tua sebagai anak. Dan diimpikan setiap wanita sebagai kekasih.
Sebenarnya, mudah saja untuk mengatakan Jason Gilbert, Jr. adalah Impian Amerika. Setiap orang pasti berpikir begitu. Tapi di balik penampilannya yang begitu mengagumkan, ada satu kekurangan kecil. Sebuah cacat memilukan, warisan leluhurnya. Jason Gilbert terlahir sebagai Yahudi.
Ayahnya telah bekerja keras untuk menutupi kenyataan itu.
23
Sebab Jason Gilbert, Sr. tahu, dari bekas-bekas luka masa kanak-kanaknya di Brooklyn, bahwa menjadi Yahudi adalah sebuah rintangan, bagai seekor elang laut di sekeliling jiwa. Hidup akan jauh lebih baik andai kata setiap orang bisa menjadi orang Amerika saja.
Dia sudah lupa mempertimbangkan untuk membuang tanggung jawab dari nama belakangnya. Dan akhirnya, suatu sore di musim gugur tahun 1933, seorang hakim pengadilan keliling memberi Jacob Gruenwald kehidupan baru sebagai Jason Gilbert.
Dua tahun kemudian dalam pesta dansa musim semi di kelab daerahnya, dia bertemu Betsy Newman yang berambut pirang, bertubuh mungil, dan berwajah bintik-bintik. Mereka memiliki banyak persamaan. Menggemari teater, dansa, dan olahraga lapangan. Yang tak kalah penting dari segalanya, mereka sama-sama sangat acuh tak acuh terhadap praktik-praktik kepercayaan leluhur mereka.
Untuk menghindari berbagai tekanan dari sanak saudara yang lebih religius agar menjalankan suatu upacara yang lebih "pantas", mereka memutuskan untuk kawin lari.
Perkawinan mereka bahagia, apalagi ketika pada tahun 1937 Betsy melahirkan seorang anak lelaki, yang mereka namakan Jason,
Tepat pada saat dia mendengar berita hebat itu, di ruang tunggu yang penuh asap rokok, Gilbert, Sr. menanam tekad dalam hati. Dia akan melindungi putranya yang baru lahir terhadap penderitaan sekecil apa pun yang disebabkan darah Yahudi orangtuanya. Tidak, anak ini akan tumbuh dan menjadi anggota masyarakat Amerika kelas satu.
Pada saat itu, Gilbert, Sr. adalah wakil direktur pelaksana Perusahaan Komunikasi Nasional yang berkembang pesat. Dia dan Betsy mendiami rumah besar dengan halaman tiga ekar di kawasan Syosset, Long Island, yang tidak memiliki perkampungan Yahudi.
Tiga tahun kemudian, lahir anak perempuan, Julie. Seperti kakaknya, dia mewarisi mata biru dan rambut pirang ibunya—hanya saja Julie berwajah bintik-bintik.
Masa kanak-kanak mereka sangat indah. Keduanya tampak menggebu-gebu menjalani suasana pengembangan diri seperti yang
24
diupayakan sang ayah bagi mereka. Hal itu dimulai dengan pelajaran renang, dilanjutkan dengan menunggang kuda serta tenis. Dan, tentu saja, main ski pada liburan musim dingin.
Jason muda dipersiapkan dengan keras tapi penuh kasih sayang untuk menjadi jagoan di lapangan tenis.
Mula-mula, dia dilatih di klub dekat rumah. Tapi ketika dia menunjukkan prestasi seperti yang diharapkan ayahnya, setiap Sabtu Gilbert, Sr. mengantarkan sendiri calon juara hasil didikannya ke Forest Hills untuk berlatih di bawah asuhan Ricardo Lopez, mantan juara Wimbledon dan Amerika. Dad mengamati setiap menit latihan-latihan itu, menyerukan dorongan semangat dan pujian terhadap kemajuan Jason.
Pasangan Gilbert telah memutuskan untuk membesarkan anak-anak mereka tanpa agama. Tetapi mereka segera sadar, bahwa di daerah bebas seperti Syosset pun, orang perlu bergabung dalam suatu kelompok. Bila tidak, orang itu akan merasa terasing, perasaan yang lebih buruk daripada... menjadi warga kelas dua.
Sekali lagi, keberuntungan berpihak pada mereka ketika sebuah gereja Unitarian dibangun tak jauh dari rumah. Mereka diterima dengan hangat, meskipun keikutsertaan mereka hanya sekali-sekali, bahkan hampir tak pernah. Mereka hampir tak pernah datang pada hari Minggu. Pada Hari Natal, biasanya mereka tengah meluncur di lereng pegunungan, dan saat Paskah, sedang berjemur di pantai. Tapi setidaknya, mereka termasuk dalam suatu kelompok.
Kedua suami-istri itu cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa membesarkan anak-anak mereka sebagai WASP—White, Anglo Saxon, Protestan—dari Mayflower pada akhirnya akan menumbuhkan kebingungan psikologi. Maka, mereka mengajarkan putra-putri mereka bahwa latar belakang Yahudi ibarat sebuah anak sungai kecil yang mengalir dari Negeri Leluhur untuk mengikuti arus utama masyarakat Amerika yang besar.
Julie masuk sekolah asrama tapi Jason memilih tetap di rumah dan masuk Akademi Hawkins-Atwell. Dia mencintai Syosset, dan terutama tak ingin kehilangan kesempatan mengencani para gadis. Di samping renis, berkencan merupakan kegiatan yang digemarinya. Dan di kedua bidang itu dia meraih sukses.
25
Harus diakui, dia bukan jagoan di kelas. Namun nilai-nilainya cukup baik untuk masuk ke universitas impiannya—juga dambaan ayahnya—yakni Yale.
Alasan mereka memilih Yale bersifat intelektual sekaligus emosional. Lulusan Yale selalu mendapat kedudukan terhormat dan tampaknya mereka memiliki tiga hal yang berkaitan—terpandang, sarjana, dan atlet. Dan Jason seolah memang dilahirkan untuk ke sana.
Meski demikian, amplop yang tiba pada pagi hari tanggal 12 Mei itu ternyata sangat ringan, dan itu mencurigakan karena menunjukkan pesan yang dibawanya singkat saja. Pesan itu juga sangat menyakitkan. Yale menolak.
Kekecewaan keluarga Gilbert berubah menjadi kemurkaan ketika mereka mendengar bahwa Tony Rawson, yang nilai-nilainya tidak lebih baik dari Jason, dan pukulan backband-nya. jelas lebih buruk, ternyata diterima di New Haven.
Ayah Jason berkeras untuk bertemu langsung dengan kepala sekolah, yang juga lulusan Yale.
"Mr. Trumbull," desaknya, "dapatkah Anda menjelaskan bagaimana bisa mereka menolak anak saya namun menerima Tony Rawson?"
Pendidik yang rambutnya sudah memutih di pelipis itu mengisap pipanya dan menjawab, "Anda harus mengerti, Mr. Gilbert, Rawson adalah 'warisan' Yale. Ayah dan kakeknya juga lulusan Yale. Hal itu menjadi pertimbangan tersendiri. Mereka sangat menjunjung tinggi tradisi."
"Baik, baik," sahut Gilbert, Sr., "tapi dapatkah Anda memberi penjelasan yang lebih logis kenapa anak seperti Jason, pemuda baik-baik, atlet besar..."
"Sudahlah, Dad," Jason memotong. Ia merasa malu.
Tapi ayahnya tetap bertahan. "Dapatkah Anda mengatakan pada saya kenapa almamater Anda tidak bersedia menerima seorang pemuda seperti dia?"
Trumbull bersandar ke punggung kursinya dan menjawab,
26
"Begini, Mr. Gilbert, saya tidak tahu pasti apa sebenarnya pertimbangan panitia Yale. Tapi, saya tahu benar bahwa mereka menyukai 'campuran yang seimbang' di setiap kelas di New Haven." "Campuran?"
"Ya, begitulah," kepala sekolah itu berterus terang, "ada pertimbangan penyebaran geografis, anak-anak para alumnus—seperti dalam kasus Tony. Lalu harus pula ada keseimbangan proporsional antara siswa-siswa sekolah menengah dan sekolah persiapan, pemusik, atlet..."
Pada saat itu ayah Jason maklum apa yang dimaksud Trumbull. "Mr. Trumbull," katanya, mencoba mengendalikan kemarahannya, "soal 'campuran' yang Anda sebutkan itu, apakah itu juga meliputi latar belakang keagamaan?"
"Pada hakikatnya, ya," sahut kepala sekolah itu dengan sopan. "Yale memang tidak menetapkan apa yang disebut kuota. Tetapi, sampai batas tertentu, mereka membatasi jumlah mahasiswa Yahudi yang mereka terima."
"Itu melanggar hukum!"
"Saya kira tidak," sahut Trumbull. "Jumlah orang Yahudi kira-kira dua setengah persen dari jumlah penduduk nasional. Saya berani bertaruh paling sedikit Yale menerima empat kali lipat dari jumlah itu."
Gilbert, Sr. tidak mau bertaruh. Dia yakin Mr. Trumbull tahu persis persentase penganut Yahudi yang diterima almamaternya se-tiap tahun.
Jason cemas kemarahan ayahnya meledak, dan dengan segala < ara ia ingin mencegahnya.
"Begini, Dad, aku tidak sudi masuk ke sekolah yang tidak menginginkan diriku. Bagiku, persetan dengan Yale."
Dia kemudian berpaling pada kepala sekolah dan berkata penuh penyesalan, "Maafkan saya, Sir."
"Tidak apa-apa," jawab Trumbull. "Reaksi yang sangat bisa dimengerti. Kini, marilah kita berpikir positif. Bagaimanapun, pilihan Keduamu juga sekolah yang sangat baik. Sejumlah orang bahkan menganggap Harvard sebagai perguruan tinggi terbaik di seluruh negeri."
27
TED LAMBROS
Tuhan Agung, hamba mohon padaMu harta tiada kurang.
Sehingga hamba tidak tidak mengecewakan diri sendiri,
Agar dalam tindakan hamba boleh melambung Setinggi hamba sekarang bisa memandang dengan mata jernih ini.
HENRY DAVID THOREAU KELAS 1837
Semua orang bijak mementingkan diri sendiri.
RALPH WALDO EMERSON KELAS 1821
DIA seorang pelaju. Anggota kelompok minoritas yang nyaris dianggap tidak ada, yang keadaan keuangannya tidak cukup untuk menikmati kemewahan hidup bersama kawan-kawan mereka di kampus. Jadi, pada siang hari mereka merupakan warga Harvard—menjadi bagian namun sekaligus terpisah—dan pada malam hari terpaksa kembali ke dunia nyata dengan naik bus atau kereta api bawah tanah.
Ironisnya, Ted Lambros bisa dikatakan lahir di bawah kerindangan Taman Kampus Harvard. Ayahnya, Socrates, yang datang ke Amerika dari Yunani pada awal tahun tiga puluhan, adalah pemilik rumah makan populer The Marathon di Massachusetts Avenue, hanya beberapa langkah dari Perpustakaan Widener.
Dia sering membanggakan kepada para stafnya (dengan kata lain, keluarganya) bahwa di restorannya, otak-otak cemerlang yang berkumpul setiap malam lebih banyak daripada yang pernah "bersimposium" di Akademi Plato. Tidak hanya para filsuf, tapi juga pemenang-pemenang Hadiah Nobel bidang fisika, kimia,
28
kedokteran, dan ekonomi. Dan bahkan Mrs. Julie Child memuji masakan istrinya—daging domba dengan bumbu jeruk—sebagai masakan "paling memikat".
Apalagi putranya, Theodore, yang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah dan Latin Cambridge, begitu dekat dengan wilayah keramat tersebut sehingga hampir merupakan bagian dari perguruan tinggi itu sendiri.
Karena Lambros senior menjunjung tinggi para anggota lembaga pendidikan tinggi itu, bahkan mendewakan mereka, tidak mengherankan putranya tumbuh dengan keinginan mendalam untuk kuliah di Harvard.
Pada usia enam belas, Theodore yang jangkung, berambut hitam, dan berwajah tampan, diangkat menjadi pelayan penuh sehingga memungkinkannya menjalin hubungan yang lebih dekat dengan tokoh-tokoh akademis itu. Ted merasakan getaran tertentu, bahkan ketika mereka sekadar mengucapkan selamat malam kepadanya.
Dia tak tahu sebabnya. Yang jelas, ia merasakan semacam karisma Harvard dalam dirinya, bahkan dalam waktu sangat singkat, ketika ia menghidangkan sepiring kleftiko.
Akhirnya, pada suatu malam, karisma itu menjadi jelas. Tokoh-tokoh itu memiliki kepercayaan diri luar biasa. Keyakinan diri yang memancar dari mereka seperti lingkaran cahaya di atas kepala orang-orang suci—tak peduli apakah mereka membicarakan metafisika atau kebaikan istri seorang dosen baru.
Sebagai anak seorang imigran yang belum mapan, Ted terutama mengagumi kemampuan mereka untuk mencintai diri dan menghargai kepandaian mereka sendiri.
Dan, itu memberinya suatu tujuan dalam hidupnya. Dia ingin menjadi salah seorang dari mereka. Tidak sekadar sarjana, melainkan benar-benar seorang guru besar. Dan ayahnya ikut berbagi dalam mimpi itu.
Anak-anak Lambros yang lain, Daphne dan Alexander, sangat Bebal karena Papa sering mendengung-dengungkan masa depan Ted yang gemilang di waktu makan malam.
"Aku tidak mengerti kenapa setiap orang mengira dia begitu hebat," ujar Alex bersungut-sungut
"Karena dia memang hebat," kata Socrates dengan semangat ahli nujum. "Dalam keluarga ini, Theo adalah lambros sejati." Dia tersenyum mendengar permainan kata terhadap nama keluarga mereka, yang dalam bahasa Yunani berarti "sinar cahaya" atau "kecemerlangan".
Dari kamar Ted yang kecil di Prescott Street, tempat dia belajar sampai jauh malam, bisa dilihat lampu-lampu Harvard Square tidak sampai dua ratus meter jauhnya. Begitu dekat, amat dekat. Bila sekali waktu konsentrasinya mengendur, dia akan menyemangati diri sendiri dengan berpikir, Tahan Lambros, kau sudah hampir sampai di sana. Sebab, seperti Odysseus di tengah laut yang bergolak di sekitar Phaeacia, dia tahu pasti tujuan perjuangannya yang keras dan panjang.
Berpegang teguh pada khalayak epik itu, dia membayangkan para dewi yang menantinya di pulau ajaib itu. Seorang putri berambut emas seperti Nausicaa. Impian Ted tentang Harvard memang mencakup pula gadis-gadis di kampus Radcliffe.
Di kelas bahasa Inggris senior, ia membaca Odyssey dan ketika mencapai jilid enam—menggambarkan adegan cinta yang panas antara Nausicaa dengan pemuda Yunani tampan yang muncul di pesisir pulaunya—dia menganggapnya sebagai pertanda sambutan meriah yang bakal diterimanya saat dia tiba di Harvard.
Tapi, nilai A penuh dalam pelajaran bahasa Inggris itu hanya satu dari sejumlah kecil yang diperolehnya sepanjang tahun. Selebihnya, dia meraih nilai B atau B-plus. Namun, ia seorang pekerja keras. Jadi, bolehkah dia berharap diterima di Harvard yang hebat?
Dia hanya menempati peringkat ketujuh di kelasnya, sementara Dewan Sekolah memberinya nilai hanya sedikit di atas rata-rata. Memang benar, Harvard biasanya memilih pelajar-pelajar yang sempurna, seperti lingkaran penuh. Ted sendiri menilai dirinya hanya seperti segi empat. Sebab, setelah belajar dan bekerja di restoran, tak ada lagi waktu untuk belajar main harpa atau bergabung dengan tim olahraga. Dia cukup objektif dengan keadaan dirinya dan terus berusaha agar ayahnya tidak terlalu banyak berharap.
Tapi, Papa Lambros tetap optimistis. Dia yakin, surat reko-
mendasi dari "para tokoh besar" yang makan malam di The Marathon akan membawa mukjizat bagi Ted.
Dan, sedikit-banyak hal itu benar. Ted Lambros diterima— meskipun tanpa tunjangan keuangan. Artinya, dia ditakdirkan untuk tetap meringkuk di kamarnya yang kecil di Prescott Street, tanpa bisa menikmati keceriaan kehidupan Harvard di luar kelas. Sebab, malam harinya dia harus bekerja di The Marathon untuk mendapatkan biaya kuliah sebesar enam ratus dolar.
Namun, Ted tak gentar. Meskipun dia baru sampai di situ, Ted siap untuk mendaki.
Sebab Ted percaya akan impian Amerika, bahwa kalau seseorang sangat menginginkan sesuatu dan mengerahkan segenap jiwa-raga-nya, pada akhirnya dia akan mencapai keinginan itu.
Dan dia menginginkan Harvard dengan "semangat tak kunjung padam", sama seperti Achilles yang akhirnya berhasil menaklukkan Troya.
Bedanya, Achilles tak perlu mengitari meja-meja setiap malam untuk melayani pengunjung restoran.
ANDREW ELIOT
Bukan! Aku bukan Pangeran Hamlet,
juga tidak dimaksudkan menjadi dia;
Aku seorang hamba, seorang yang akan bekerja
Mengembangkan kemajuan,
menciptakan satu-dua pertikaian,
Memberi saran pada sang pangeran; tak pelak,
pekerjaan yang mudah,
Menyanjung, senang bisa berguna,
Politik, hati-hati, dan teliti;
Penuh bahasa tinggi, tapi agak tumpul...
T.S. ELIOT Kelas 1910
¦'-I
SATU lagi Eliot akan masuk ke Harvard, meneruskan tradisi yang telah dimulai pada tahun 1649. Andrew mengalami masa kanak-kanak yang istimewa. Bahkan setelah bercerai secara baik-baik, orangtuanya melimpahinya dengan segala yang diinginkan seorang anak lelaki yang sedang tumbuh. Dia punya seorang pengasuh Inggris dan sekawanan boneka beruang. Dan sejauh yang bisa diingatnya, mereka mengirimnya ke sekolah-sekolah asrama paling mahal dan per-kemahan-perkemahan musim panas. Mereka bahkan membentuk dana perwalian untuk menjamin masa depannya.
Pendek kata, mereka mencurahkan segalanya, kecuali minat dan perhatian mereka.
Tentu saja orangtuanya mencintainya. Itu jelas, tanpa perlu dinyatakan dengan kata-kata. Mungkin, itulah sebabnya mereka tidak pernah mengatakannya. Mereka menganggap Andrew akan langsung mengerti betapa mereka menghargai kebaikan dan kemandiriannya.
Namun, dari seluruh keluarganya, Andew merupakan orang pertama yang merasa dirinya tidak pantas diterima di Harvard. Sebagaimana dia sering berkelakar dengan mengejek dirinya sendiri, "Mereka membiarkan aku masuk karena namaku Eliot, dan aku bisa mengejanya."
Jelas, leluhurnya membayang-bayangi rasa percaya dirinya. Dan, cukup bisa dimengerti, apa yang dianggapnya sebagai kekurangan daya cipta, hanya memperbesar sifat rendah diri yang dibawanya sejak lahir.
Sebenarnya, dia pemuda yang cukup cemerlang. Dia memiliki kemampuan lumayan dalam menyusun kata-kata—terbukti dari buku harian yang dibuatnya sejak sekolah persiapan. Dia cukup andal main sepak bola, dengan posisi pemain sayap yang tendangan sudutnya cukup banyak menolong para penyerang mencetak gol.
Sebagai pelengkap kepribadiannya—dia selalu bahagia kalau bisa menolong teman-temannya.
Di luar lapangan dia ramah, penuh perhatian serta pertimbangan.
Di atas segala-galanya, meskipun baginya tidak terlalu penting, dia dianggap pemuda yang amat baik oleh banyak kawannya.
32
Universitas bangga menerimanya. Tapi, Andrew Eliot Kelas '58 memiliki kualitas yang membedakannya dari setiap anggota kelas Harvard-nya.
Dia tidak ambisius.
BEBERAPA menit lepas pukul 05.00 pada tanggal 20 September, sebuah bus Greyhound mencapai terminal yang kotor di pusat perdagangan Boston dan memuntahkan, di antara penumpang-penumpangnya, Daniel Rossi yang lelah dan berkeringat. Pakaiannya kumal dan rambutnya yang kemerahan kusut tak tersisir. Bahkan, kacamatanya buram oleh debu jalanan.
Dia meninggalkan Pantai Barat tiga hari sebelumnya dengan bekal enam puluh dolar dalam saku. Sekarang ini dia masih punya 52 dolar, sebab ia nyaris berpuasa dalam perjalanan melintasi Amerika.
Dengan tubuh sangat lelah, dia nyaris tak mampu menyeret koper satu-satunya (penuh naskah-naskah musik yang dipelajarinya dalam perjalanan, ditambah satu-dua kemeja) turun ke kereta bawah Catlah untuk menuju Harvard Square. Mula-mula, dia berjalan terseok-seok ke Holworthy 6 di Taman Kampus, tempat tinggalnya m bagai mahasiswa tahun pertama, kemudian mendaftar secepat mungkin sehingga bisa kembali ke Boston dan memindahkan keanggotaannya dari cabang California ke Lokal No. 9 Serikat Pemain Musik.
"Jangan banyak berharap, Nak," petugas sekretariat mengingat-kan. "Kami punya sejuta pemain piano yang menganggur. Terus terang, satu-satunya lowongan bagi pianis ialah di tempat-tempat lUi i. Tapi kau tahu sendiri. Tuhan hanya membayar upah minimum." Sambil berkata, petugas itu mengarahkan kuku panjangnya jrang bercat merah ke kertas-kertas putih kecil yang tersemat di I m I-an pengumuman. "Pilihlah tempatmu, Nak."
Setelah meneliti secara cermat berbagai kemungkinan yang ada, I >anny kembali dengan dua lembar kertas.
"Ini cukup bagus buatku," katanya. "Pemain organ pada hari Jumat malam dan Sabtu pagi di biara di Maiden, dan Minggu pagi di gereja di Quincy. Apa lowongan itu masih tersedia?"
"Itu sebabnya kertas-kertas tersebut tergantung di sini. Tapi, seperti yang kaulihat, roti yang mereka tawarkan sama kecilnya dengan biskuit Ritz."
"Yah," Danny menyahut, "tapi aku benar-benar harus memanfaatkan setiap sen uang yang bisa diraih kedua tanganku. Apakah banyak permintaan untuk mengiringi acara dansa pada Sabtu malam?"
"Wah, kau cukup kelaparan rupanya. Harus menanggung keluarga besar, atau bagaimana?"
"Bukan. Aku mahasiswa tahun pertama di Harvard dan membutuhkan uang untuk bayar kuliah."
"Kenapa orang-orang Cambridge yang kaya tidak memberi beasiswa kepadamu?"
"Ceritanya panjang," jawab Danny agak canggung. "Tapi kuharap kau tidak lupa padaku. Bagaimanapun, aku akan tetap menghubungimu."
"Aku tak akan heran, Nak."
Sehari sebelumnya, sesaat menjelang pukul 08.00, Jason Gilbert, Jr. terbangun di Syosset, Long Island.
Matahari tampak selalu bersinar lebih cerah di kamar tidurnya. Mungkin karena cahayanya dipantulkan oleh deretan piala yang berkilauan.
Dia bercukur, mengenakan kemeja Lacoste baru, kemudian membawa turun barang-barangnya termasuk berbagai raket tenis dan squash dan memasukkan semuanya ke Mercury coupé convertible keluaran tahun 1950. Dia sudah tak sabar untuk menderu di Post Road dalam kendaraan yang dimodifikasinya dengan penuh semangat. Daya mobil itu telah diperkuat, dan bahkan ditambah pipa knalpot ganda dari fiberglass.
Segenap anggota rumah tangga Gilbert—Mom, Dad, Julie, Jenny si pengurus rumah, dan Maxwell, suaminya, si pengurus kebun—menunggu untuk melepasnya pergi.
34
Terjadilah hujan peluk-cium. Dan pidato perpisahan singkat dari ayahnya.
"Nak, aku tidak mendoakan agar kau berhasil, sebab kau tak memerlukannya. Kau dilahirkan untuk menjadi nomor satu—dan itu tidak hanya terbatas di lapangan tenis."
Kata-kata perpisahan yang bertujuan memberi semangat itu justru berakibat sebaliknya pada Jason. Dia gelisah membayangkan harus meninggalkan rumah dan menguji nyalinya menghadapi lawan-lawan tangguh di luar dunianya selama ini. Apalagi harapan Dad yang tinggi itu disampaikan pada menit terakhir.
Namun, dia akan merasa lebih nyaman seandainya tahu bahwa pada hari itu, pidato pujian ayahnya itu juga digemakan ratusan kali oleh ratusan orangtua lain yang melepas keturunan mereka yang berbakat istimewa ke Cambridge, Massachusetts.
Lima jam kemudian, Jason berdiri di luar kamar asrama yang ditunjuk baginya, Straus A-32. Di pintu, tertempel secarik kertas kuning.
Kepada rekan sekamarku: aku selalu tidur siang, jadi harap tenang.
Terima kasih
Kertas itu hanya ditandatangani: "D.D."
Jason dengan tenang membuka pintu dan sambil berjinjit menjinjing barang bawaannya ke tempat tidur yang masih kosong. Selelah menaruh koper-kopernya di ranjang logam yang agak berderik, dia melongok ke luar jendela.
Harvard Square tampak ramai, tapi Jason tidak menghiraukannya, (luuarnya suasana hatinya penuh semangat sebab masih cukup aktu untuk pergi ke Soldier Field dan memenangi sebuah perundingan tenis. Siap dalam pakaian putih-putih, secepat kilat ia meraih raket Wilson-nya dan sekaleng bola tenis Spalding.
Di lapangan, dia mengenali mahasiswa yang pernah mengalahkannya dalam turnamen musim panas dua tahun yang lalu. Pemuda ii u gembira bertemu Jason lagi. Ia setuju melakukan beberapa
L, ........ ¦.* • .
pukulan, dan ia segera tahu betapa besar kemajuan yang dicapai si pendatang baru ini.
Ketika dia kembali ke asramanya, Straus Hall, ada secarik kertas kuning lagi di pintu, menyatakan bahwa D.D. pergi makan malam lalu ke perpustakaan (perpustakaan—padahal mereka belum mendaftar!) untuk belajar, dan akan kembali sekitar pukul 10.00 malam. Kalau rekan sekamarnya merencanakan untuk masuk kamar setelah waktu itu, sebaiknya bersikap setenang mungkin.
Jason mandi, memakai jaket Haspel bertali, mencari sepotong roti di kafeteria di Square, kemudian meluncur ke Radcliffe untuk melirik gadis-gadis tahun pertama. Dia kembali sekitar pukul 10.30 dan, sebagaimana layaknya, menghormati kebutuhan istirahat rekan sekamar yang belum dilihatnya.
Keesokan harinya dia terbangun hanya untuk menemukan sebuah catatan lagi.
Aku pergi mendaftar.
Kalau ibuku menelepon, katakan padanya aku sudah makan dengan baik tadi malam.
Trims.
Jason meremas pemberitahuan terakhir ini dan menggabungkan diri dengan antrean yang kini telah memanjang hingga mengitari blok di luar Memorial Hall.
Kendati segala tekad yang tersirat dari pemberitahuannya, D.D. yang selama ini tak bisa ditangkap batang hidungnya, sama sekali bukan anggota pertama Kelas '58 yang mendaftar. Tepat pada pukul sembilan, gerbang Memorial yang megah terbuka untuk menyilakan Theodore Lambros masuk.
Tiga menit sebelumnya, Ted meninggalkan rumahnya di Prescott Street untuk menduduki sebuah tempat kecil tapi tak terhapuskan dalam sejarah perguruan tinggi paling tua di Amerika.
Dalam benaknya, dia telah memasuki Taman Firdaus.
*6
AYAH Andrew Eliot mengantarnya langsung dari Maine dengan mobil station wagon keluarga buatan tahun 30-an, memuat koper-koper yang dikemas cermat berisi aneka jas wol dan shetland, sepatu-sepatu kulit putih, aneka ragam sepatu moccasin, dasi-dasi bergaris, dan persediaan kemeja-kemeja dengan kerah berkancing dan berlabel untuk satu tahun kuliah.
Sebagaimana biasa, ayah dan anak itu tak banyak bicara satu sama lain. Sudah terlalu banyak Eliot yang menempuh perjalanan keramat ini, sehingga percakapan menjadi tidak penting.
Mereka parkir di gerbang paling dekat dengan Massachusetts Hall (sebagian dari penghuni terdahulu merupakan pasukan George Washington). Andrew lari ke Taman Kampus, bergegas menuju Wig G-21, meminta bantuan kawan-kawan sekolah persiapannya untuk mengangkat barang-barang bawaannya. Lalu, sementara mereka memanggul koper dan mengangkat bungkusan, dia mendapati dirinya berhadap-hadapan dengan ayahnya. Mr. Eliot mengambil kesempatan itu untuk menyampaikan sekadar nasihat.
"Nak," katanya, "aku akan senang sekali kalau kau berusaha keras untuk mencapai keberhasilan di sini. Sebab, meskipun banyak sekolah kelas dua di negara kita ini, Harvard hanya ada satu."
Andrew dengan penuh rasa syukur menerima nasihat yang tulus itu, menjabat tangan ayahnya, dan bergegas lari ke asrama. Kedua rekan sekamarnya sudah mulai membantu mengeluarkan barangku angnya. Tepatnya, mengeluarkan minuman kerasnya. Mereka bersulang atas pertemuan kembali setelah musim panas penuh besta-pora di Eropa.
"Hey, you guys," dia memprotes, "mestinya kalian permisi dulu padaku. Lagi pula, kita harus pergi mendaftar."
"Ayolah, Eliot," ujar Dickie Newall sambil meneguk segelas lagi. "K.uni baru saja lewat di sana, deretannya masih mengitari seluruh blok."
"Benar," Michael Wigglesworth menandaskan, "cuma orang picik laja yang ingin cepat-cepat sampai di sana. Padahal, kita semua tahu, pertandingan tidak selalu dimenangkan oleh yang tercepat."
37
"Kalau di Harvard, kukira begitu," komentar Andrew sopan.. "Sedang yang hancur pasti tersingkir. Aku mau ke sana."
Newall tertawa kecil. "Eliot, sobat, kau bertingkah seperti anak kelas satu."
Andrew tetap berkeras, bergeming menghadapi ejekan rekan-rekannya. "Aku pergi, kawan-kawan."
"Pergilah," kata Newall, melambai dengan gaya angkuh. "Kalau kau cepat kembali, kami akan menyisakan sebagian dari Haig & Haig-mu. Omong-omong, mana sisa yang lain?"
Maka Andrew Eliot berjalan melintasi Taman Kampus untuk menyatu dengan deretan manusia yang panjang berliku-liku—dan pada akhirnya menyatu dalam keanekaragaman manusia anggota Kelas 1958.
KINI, seluruh Kelas sudah berada di Cambridge, meskipun dibutuhkan waktu beberapa jam sebelum semua mahasiswa resmi terdaftar.
Di dalam bangsal raksasa, di bawah sebuah jendela kaca-timah besar, berdirilah para pemimpin dunia masa depan. Pemenang-pemenang Hadiah Nobel, raja-raja industri, ahli-ahli bedah saraf, dan beberapa gelintir penjual asuransi.
Pertama-tama, mereka menerima amplop-amplop manila besar dengan setumpuk formulir yang harus ditandatangani (rangkap empat untuk Biro Keuangan, rangkap lima untuk Bagian Pendaftaran, dan, entah kenapa, rangkap enam untuk Pelayanan Kesehatan). Untuk mengisi berkas-berkas itu, mereka duduk berdampingan di meja-meja sempit, berderet panjang seolah tak berujung.
Salah satu pertanyaan yang harus diisi—diajukan untuk kepentingan Phillips Brooks House—berkaitan dengan kelompok keagamaan (jawaban tersedia dalam pilihan).
Meski tak seorang pun tergolong penganut yang taat, Andrew Eliot, Danny Rossi, dan Ted Lambros masing-masing menandai
kotak-kotak di samping Episkopal, Katolik, dan Yunani Ortodoks. Jason Gilbert, sebaliknya, menyatakan tidak masuk kelompok agama mana pun.
Setelah pendaftaran resmi, mereka harus menghadapi serbuan para pemburu anggota perkumpulan, yang sambil mengibas-ngibaskan kertas, dengan hiruk-pikuk mendesak para mahasiswa tahun pertama Harvard untuk masuk perkumpulan Pemuda Demokrat, Republikan, Liberal, Konservatif, pendaki gunung, penyelam skuba, dan sebagainya.
Mahasiswa-mahasiswa pengecer yang gigih dan tak terhitung jumlahnya, dengan riuh membujuk mereka untuk berlangganan Crimson ("satu-satunya sarapan sehari-hari di Cambridge"), Advocate ("Agar Anda bisa mengatakan Anda sudah membaca tentang orang-orang ini sebelum mereka menerima Pulitzer"), Lampoon ("kalau dihitung-hitung, Anda hanya mengeluarkan satu sen untuk sekali tertawa"). Singkat kata, hanya si kikir yang paling tegar atau si miskin yang paling hina yang berhasil lolos dengan dompet utuh dari kerumunan itu.
Ted Lambros tak mungkin masuk ke mana pun, karena jadwalnya sudah penuh dengan kegiatan akademis pada siang hari dan kesibukan kuliner pada malam hari.
Danny Rossi membubuhkan namanya di Catholic Club, dengan pikiran para gadis yang taat beragama biasanya agak pemalu dan karenanya, lebih mudah didekati. Mungkin, mereka juga tidak berpengalaman seperti dirinya.
Andrew Eliot menerobos segala keramaian itu seperti seorang pengembara berpengalaman yang sudah biasa menembus hutan belantara. Jenis-jenis perkumpulan yang akan dimasukinya menim ng calon anggota dengan cara-cara yang lebih canggih dan terhormat.
Dan, Jason Gilbert, kecuali cepat-cepat membayar langganan < Wimson (agar dia bisa mengirim berita-berita keberhasilannya kepada Dad dan Mom di rumah), melangkah tenang melewati barisan Cangan para pemburu itu, tak beda dengan nenek moyangnya ketika menyeberangi Laut Merah, dan kembali ke Straus.
Aneh bin ajaib, D.D. yang penuh rahasia ternyata dalam keadaan
Y)
bangun. Setidaknya pintu kamar tidurnya terbuka dan seseorang terbaring di ranjang, wajahnya tertutup buku fisika.
Jason mencoba membuka percakapan. "Hai, halo, kaukah D.D.?"
Sepasang kacamata tebal berbingkai tanduk menyembul dengan hati-hati dari balik buku.
"Kau rekan sekamarku?" sahut sebuah suara yang gugup.
"Yeah. Aku ditunjuk ke Straus A-32," Jason menjawab.
"Kalau begitu, kau rekan sekamarku," pemuda itu menarik kesimpulan secara logis. Dan setelah dengan hati-hati menandai halaman yang dibacanya dengan jepitan kertas, dia meletakkan bukunya, bangkit, dan mengulurkan tangan yang dingin dan lembap.
"Aku David Davidson," katanya.
"Jason Gilbert."
D.D. mengamati rekan sekamarnya dengan curiga dan bertanya, "Kau tidak merokok, bukan?"
"Tidak. Itu bisa menimbulkan polusi. Kenapa kau bertanya, Dave?"
"Ku^nohon, aku lebih suka dipanggil David," jawabnya. "Aku ber-tanya karena aku dengan tegas minta rekan sekamar yang tidak merokok. Sebenarnya aku ingin sebuah kamar single, tapi mereka tak membolehkan mahasiswa tahun pertama hidup sendirian."
"Kau dari mana?" tanya Jason ingin tahu.
"New York. Sekolah Menengah Sains Bronx. Aku finalis dalam lomba Westinghouse. Dan kau?"
"Long Island, Syosset. Aku hanya pernah jadi finalis pada sejumlah turnamen tenis. Kau menguasai suatu cabang olahraga, David?"
"Tidak," cendekiawan muda itu menjawab. "Semua itu cuma pemborosan waktu. Lagi pula, aku di kedokteran. Aku harus menempuh pelajaran seperti Kimia Dua Puluh. Karier apa yang kau-pilih, Jason?"
Busyet, pikir Jason, haruskah aku diwawancara hanya untuk menjadi rekan sekamar makhluk menyebalkan ini?
"Terus terang, aku belum memutuskan. Tetapi, sementara aku memikirkan hal itu, apa tidak sebaiknya kita keluar dan membeli beberapa perabot untuk kamar duduk?"
40
"Untuk apa?" tanya D.D. hati-hati. "Kita masing-masing punya satu tempat tidur, satu meja, dan satu kursi. Apa lagi yang kita perlukan?"
"Yah," ujar Jason, "sebuah sofa rasanya nyaman. Maksudku, untuk bersantai dan membaca-baca. Sebuah termos es juga akan banyak gunanya. Dengan begitu, kita punya minuman dingin untuk dihidangkan pada tamu-tamu di akhir pekan."
"Tamu?" tanya D.D. ingin tahu sekaligus agak kesal. "Kau mau bikin pesta pora di sini?"
Jason mulai kehilangan kesabaran.
"Katakan padaku, David. Apa kau secara khusus minta seorang rahib sebagai rekan sekamar?" "Tidak."
"Nah, itu sebabnya kau tidak mendapat seorang rahib. Sekarang, kau mau ikut cari sofa bekas atau tidak?"
"Aku tidak butuh sofa," jawab David dingin.
"Baik," ujar Jason, "kalau begitu aku akan beli sendiri. Tapi, kalau sekali saja aku melihatmu duduk di sofa itu, akan kuminta uang sewa."
***
Andrew Eliot, Mike Wigglesworth, dan Dickie Newall melewatkan sepanjang sore dengan menjelajahi pasar perabotan di seputar Square, dan berhasil memperoleh mebel berlapis kulit yang terbaik. Setelah menghabiskan waktu tiga jam dan 195 dolar, mereka berdiri di lantai dasar pintu masuk Gedung G dengan segala harta kekayaan mereka.
"Oh, Tuhan," Newall berseru, "aku merinding membayangkan berapa banyak gadis jelita yang akan menyerah di sofa yang hebat ini. Maksudku, mereka cukup sekali melempar pandang, melepas semua pakaian, dan langsung meloncat ke atasnya."
"Kalau begitu, Dickie," Andrew menukas kata-kata sahabatnya, "lebih baik kita segera menggotongnya ke atas. Kalau mahasiswi
il
Cliffie lewat sementara kita masih di sini, bisa-bisa kau harus beraksi di depan umum."
"Jangan kira aku tak sanggup," Newall menyahut dengan gagah berani, seraya cepat menyambung, "ayo, kita angkat segala perlengkapan ini. Andy dan aku akan mengangat sofa." Kemudian ia menoleh pada Wigglesworth yang bertubuh paling besar, dan berseru, "Kau bisa menangani kursi itu sendirian, kan?"
"Tenang saja," atlet jangkung itu menyahut singkat. Langsung saja dia mengangkat kursi besar berlengan itu, menaruhnya di atas kepala seperti helm futbol, dan mulai menaiki tangga.
"Itulah Mike kita yang perkasa," Newall menggoda. "Anggota abadi Harvard masa depan, dan orang pertama dari perguruan tinggi ini yang akan memerankan Tarzan di layar perak."
***
"Cuma tinggal tiga anak tangga lagi. Ayolah, Bung," Danny Rossi memohon.
"Hai, dengar, Nak, perjanjiannya adalah kami mengantar barang ini. Kau tidak bilang harus naik tangga. Kami selalu membawa piano lewat lift."
"Ayolah," Danny memprotes, "kalian kan tahu, di asrama Harvard tak ada lift. Berapa ongkos mengangkat barang ini ke kamarku yang tinggal tiga langkah lagi?"
"Dua puluh dolar," jawab salah satu kuli yang bertubuh kekar.
"Yang benar saja. Piano ini cuma 35 dolar."
"Kalau mau oke, kalau tidak terserah. Atau kau terpaksa bernyanyi di tengah halaman."
"Aku tak mampu membayar dua puluh dolar," desah Danny.
"Anak Harvard brengsek," geram salah satu kuli yang lebih banyak bicara. Lalu mereka pergi.
Selama beberapa menit, Danny terduduk di anak tangga Holworthy, tercenung menghadapi dilema besarnya. Dan kemudian dia mendapat akal.
42
Dia meletakkan kursi piano yang reyot pada posisi, membuka tutup alat musik tua itu, lalu mulai menghidupkan tombol-tombol gading yang kusam itu dengan The Varsity Drag. Awalnya ragu-ragu, kemudian makin mantap.
Sebagian besar jendela-jendela di Taman Kampus terbuka karena cuaca musim panas sehingga tak lama kemudian sekelompok penonton mulai mengerumuninya. Bahkan, beberapa mahasiswa tahun pertama yang bersemangat, mulai berdansa. Anggap saja sebagai latihan sebelum berlaga di Radcliffe dan medan pergaulan lainnya.
Danny memang hebat. Dan rekan-rekan sekelasnya jelas terpukau menghadapi kenyataan mereka memiliki pemusik berbakat besar di tengah mereka. ("Anak ini kembaran Peter Nero," komentar seseorang.) Akhirnya, Danny berhenti. Semua orang bertepuk tangan dan berseru-seru meminta ia main lagi. Maka, dia mulai menerima macam-macam permintaan seperti The Saber Dance dan Three Coins in the Fountain.
Sampai akhirnya seorang petugas keamanan universitas melewati tempat itu. Memang itulah yang diharapkan Danny.
"Dengar," gertak petugas itu, "kau tidak boleh main piano di luar, di Taman Kampus. Kau harus memasukkannya ke gedung asrama."
Para mahasiswa memprotes.
"Tunggu dulu, begini saja," kata Danny Rossi kepada para penontonnya yang bersemangat. "Bagaimana kalau kita mengangkat piano ini ke kamarku, dan aku akan main buat kalian sepanjang malam."
Sorak-sorai tanda setuju menggema, sementara sekitar enam penonton dengan sigap mulai menggotong piano itu.
"Tunggu dulu," petugas keamanan itu memperingatkan, "jangan lupa, tak boleh main musik setelah pukul sepuluh malam. Itu peraturan."
Teriakan-teriakan protes semakin ramai ketika Danny dengan sopan menyahut, "Baik, Sir. Aku berjanji hanya akan main sampai waktu makan malam."
• .'m ***
43
Meskipun Ted Lambros kurang beruntung karena tak bisa pindah dari kamar tidur kecil yang dihuninya selama masa sekolah menengah ke salah satu asrama di lingkungan kampus, ia melewatkan sebagian besar sore itu untuk belanja barang-barang pokok di toko koperasi The Coop.
Pertama-tama dan yang terpenting, tas buku ujian, suatu keharusan bagi setiap pemuda Harvard yang serius—benda yang sangat bermanfaat untuk menampung peralatan sekaligus menunjukkan jati diri sebagai mahasiswa yang bonafide. Dia juga membeli bendera segi empat besar warna merah tua dengan huruf-huruf putih yang membanggakan: "Harvard—Kelas 1958". Dan, sementara para mahasiswa tahun pertama lainnya menggantungkan barang-barang kebanggaan itu di kamar asrama mereka di Taman Kampus, Ted menggantungkan miliknya di atas meja belajar di kamar tidurnya yang sempit.
Sebagai tambahan, dia membeli pipa Leavitt & Pierce yang sangat mengesankan. Pada suatu hari kelak, dia akan mempelajari cara mengisapnya.
Sementara hari semakin sore, dia meneliti dan meneliti ulang beberapa pakaian bekas yang dibelinya dengan cermat, dan dalam hati menyatakan dirinya siap menghadapi tantangan Harvard esok hari.
Dan kemudian, bersamaan dengan pupusnya alam impiannya, dia menuju The Marathon di Massachusetts Avenue, tempat ia mengenakan pakaian pelayannya yang itu-itu juga, untuk menyajikan hidangan daging domba kepada para pelanggan dari Cambridge.
Hari itu penuh dengan acara antre. Mula-mula pada pagi hari di Memorial Hall, kemudian pukul 18.00 lewat sedikit, ketika antrean untuk makan malam di Serikat Mahasiswa Tahun Pertama meliuk ke luar, sampai menuruni jenjang batu granit, dan hampir masuk ke
44
Quincy Street. Tentu saja, setiap mahasiswa tahun pertama memakai jas dan dasi, meskipun warna dan kualitasnya berbeda-beda, tergantung pada sarana dan latar belakang pemakainya. Peraturan dengan tegas menyatakan setelan jas dan dasi sebagai satu-satunya perlengkapan beradab, yang memungkinkan seorang mahasiswa Harvard boleh makan.
Tetapi, para pemuda yang berpakaian resmi itu dihadapkan pada kejutan besar. Di sana tidak ada piring.
Sebagai gantinya, makanan mereka disendokkan ke dalam wadah plastik cokelat (seperti tempat makan anjing) yang terpetak-petak menjadi beberapa bagian tak beraturan dan tak jelas gunanya. Satu-satunya petak yang masuk akal adalah cekungan di tengah wadah aneh tersebut, yang bisa menampung segelas susu.
Meskipun diakali secara cerdik, hal itu tetap tak bisa menutupi kenyataan bahwa makanan mahasiswa tahun pertama benar-benar menyedihkan.
Apa itu—sayatan abu-abu yang dicampakkan ke dalam petak pertama? Para pelayan mengatakan itu daging. Bagi sebagian besar mahasiswa, itu tampak seperti lidah sepatu, dan semua sepakat rasanya memang seperti itu. Keadaan sama sekali tak berubah meski dikatakan mereka boleh makan sebanyak mungkin. Siapa yang mau lambah makanan yang tak bisa dikunyah?
Satu-satunya penyelamat keadaan adalah es krim. Tersedia banyak, sampai melimpah-limpah. Dan, bagi seorang anak berumur delapan belas tahun, itu bisa mengganti kekurangan makanan. Dan, mereka melakukannya tidak tangung-tanggung.
Para mahasiswa itu tidak sungguh-sungguh marah. Sebab— meskipun tidak semua mengakui—mereka sudah cukup bergairah 'lengan berada di sana. Makanan yang tidak bercita rasa itu memberi seiup mahasiswa kesempatan untuk merasa unggul terhadap sesuatu. Kebanyakan mereka terbiasa menjadi nomor satu di bidang tertentu. I)i Kelas itu saja terdapat 287 siswa sekolah lanjutan pembawa pidato perpisahan. Dengan perasaan kecut, masing-masing sadar bahwa hanya satu dari mereka yang bisa mengulangi prestasi itu di I l.uvard.
Melalui naluri yang sulit dijelaskan, para olahragawan sudah
45

Dari 

:

ebooker

Perihal

:

The Class by Erich Segal

Pesan

:

THE CLASS by Erich Segal Copyright © 1985 by Ploys, Inc. for the U.S., its dependencies, Canada, and the Philippines, All rights reserved copyright © 1985 by Dewsbury International, Inc. for the rest of the world. All rights reserved Translation copyright © 1997 by PT Gramedia Pustaka Utama
KELAS '58 Alih bahasa: Threes Susilastuti
GM 402 07.072 Foto sampul: JP Laffont/Corbis Desain dampul: Eduard I wan Mangopang Hak cipta terjemahan Indonesia: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Juli 1997
Cetakan kedua: Oktober 2007
648 him; 23 cm
ISBN-10: 979 - 22 - 3260 - 5 ISBN-13: 978 - 979 - 22 - 3260 - 8
Dicetak oleh Percetakan Penebar Swadaya, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Buat Karen dan Francesca Kelas dalam hidupku
CATATAN PENERBIT
Kisah fiktif ini bercerita tentang para mahasiswa Kelas 1958 di Harvard. Penulis melibatkan keluarga Eliot sebagai latar belakang cerita karena keluarga terhormat itu memiliki hubungan yang panjang dan membanggakan dengan Universitas Harvard. Tetapi, tokoh rekaan Andrew Eliot tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau merujuk pada anggota keluarga Eliot mana pun, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Semua tokoh utama dalam novel ini merupakan ciptaan khayalan penulis. Tokoh-tokoh itu menggambarkan sebagian jalan yang ditempuh pemuda-pemuda generasi ini dalam bidang politik, kesenian, kehidupan intelektual, atau perjalanan-perjalanan pencarian diri. Dengan menelusuri tahun-tahun mereka di Harvard dan masa-masa selanjutnya sampai Reuni ke-25 mereka, penulis menampilkan sejumlah peristiwa yang melibatkan tokoh-tokoh bidang politik dan kehidupan artistik Amerika. Penulis menggambarkan para tokoh itu sebagai lambang pengaruh tertentu dalam 25 tahun terakhir. Pembaca hendaknya memahami bahwa percakapan-percakapan khusus dan kejadian-kejadian yang melibatkan tokoh-tokoh itu adalah rekaan penulis sendiri.
Mestinya.. .ada suatu alasan mengapa seseorang
merasa amat bahagia karena dirinya
seorang putra Harvard, dan bukannya,
karena suatu kesalahan kelahiran yang mengerikan,
ditakdirkan untuk lulus di Yale atau di Cornell.
WILLIAM JAMES. M.D., 1869
CATATAN HARIAN ANDREW ELIOT
12 Mei 1983
Reuni Harvard-ku yang ke-25 akan berlangsung bulan depan dan aku takut setengah mati.
Takut menghadapi kawan-kawan sekelasku yang penuh keberhasilan, yang menapaki kembali jejak-jejak kejayaan mereka, sementara dalam hidupku, aku tak memiliki apa-apa untuk dipamerkan kecuali beberapa helai rambut putih.
Pada hari ini, kuterima sebuah buku tebal bersampul merah yang mencatat segala yang dicapai Kelas '58. buku itu benar-benar mengembalikan kesadaran diriku tentang kegagalan.
Aku terjaga sepanjang malam, terpaku menatap wajah-wajah pria yang dulu pernah menjadi mahasiswa bersamaku, dan sekarang adalah para senator, gubernur, ilmuwan terkenal di dunia, dan dokter-dokter perintis. Siapa tahu, ada di antara mereka yang akan naik ke panggung di Stockholm. Atau, taman Gedung Putih.
Dan, yang mengagumkan ialah bahwa sebagian masih tetap terikat dengan istri-istri pertama mereka.
Beberapa dari mereka yang sukses merupakan kawan-kawan dekatku. Rekan sekamar yang dulu kuremehkan, sekarang calon kuat menteri luar negeri. Rektor Harvard yang akan datang adalah pemuda yang biasa kupinjami pakaian. Seorang lain, yang hampir tak pernah kami perhatikan, kini menjadi pemusik sensasional.
Yang paling gagah berani di antara mereka mengorbankan hidupnya untuk sesuatu yang diyakininya. Kepahlawanannya membuatku merasa kecil.
Maka, kembali aku bergelimang dalam kekecewaan.
Aku adalah Eliot terakhir dari sederet panjang Eliot yang me-
masuki Harvard. Semua leluhurku pria terhormat. Dalam peperangan, dalam damai, di gereja, di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. Bahkan, pada tahun 1948, sepupuku Tom menerima Hadiah Nobel untuk Kesusastraan.
Tapi, keunggulan tradisi keluarga itu memudar pada diriku. Aku bahkan tak bisa dibandingkan dengan Jared Eliot (Kelas 1703), orang yang memperkenalkan gaharu ke Amerika.
Meskipun demikian, aku memiliki satu hubungan samar-samar dengan para pendahuluku yang arif. Mereka semua penulis catatan harian. Kembaran namaku, Pendeta Andrew Eliot, 1937, membuat catatan harian—sambil dengan gagah berani melayani jemaatnya— menggambarkan suasana Perang Revolusioner di masa pengepungan Boston tahun 1776. Hingga kini, catatan itu masih ada.
Pada saat kota dibebaskan, dia bergegas ke pertemuan Dewan Pengawas Harvard untuk menggerakkan para anggota dewan agar memberi gelar doktor kehormatan kepada Jenderal George Washington.
Putranya mewarisi kepiawaiannya berkhotbah dan menggoreskan pena, meninggalkan catatan terperinci tentang hari-hari pertama Amerika sebagai republik.
Tentu saja, tak ada perbandingan yang memadai, tapi aku juga selalu membuat catatan sepanjang hidupku. Mungkin, itulah satu-satunya sisa warisanku. Aku mengamati sejarah di sekelilingku, meskipun diriku sendiri tidak membuat satu sejarah pun.
Sementara itu, aku masih tetap takut setengah mati.
TAHUN-TAHUN KULIAH
Kami menerima dunia sebagaimana adanya.
Rokok. Seharga dua puluh sen sekian sebungkus,
dan bahan bakar sekian pula satu galon.
Seks muncul terbungkus karet
Dan terselubung dalam keengganan gaib—
Katakanlah kesantunan...
Psikologi ada dalam pikiran: abstrak
Ragam persoalan mencekam kami di tempat kami
hidup; Satu-satunya kehidupan yang layak dihayati
adalah kehidupan pribadi dan—terakhir,
aib terburuk dalam lakon ini—
Kami tidak tahu bahwa kami adalah sebuah
generasi
JOHN UPDIKE KELAS 1954
MEREKA saling lirik seperti sekelompok harimau mengamati seekor saingan baru yang mengancam. Tapi, dalam rimba macam ini, kita tak bisa yakin di mana bahaya yang sebenarnya mengintai.
Hari itu Senin, 20 September 1954. Seribu seratus enam puluh dua pemuda terbaik dan tercerdas di dunia berderet di luar bangunan Gotik Victoria yang megah, yang dikenal sebagai Memorial Hall untuk mendaftar sebagai anggota Kelas Harvard '58 mendatang.
Dalam beragam pakaian, mulai dari keluaran Brooks Brothers yang mentereng sampai pakaian bekas, wajah mereka memancarkan berbagai perasaan: tak sabar, cemas, bosan, lunglai. Sebagian dari mereka telah menempuh perjalanan jauh, yang lain hanya berjalan beberapa blok. Namun semua tahu, mereka berada di ambang awal perjalanan terbesar dalam hidup mereka.
Shadrach Tubman, putra presiden Liberia, terbang dari Monrovia lewat Paris ke bandara Idlewild, New York. Dari situ dia diantar ke Boston dengan limusin kedutaannya.
John D. Rockerfeller, IV, dengan rendah hati naik kereta api dari Manhattan dan menumpang taksi dari Stasiun Selatan ke Taman Kampus Harvard.
Sedangkan Aga Khan seolah muncul begitu saja dari Timur. (Kabar burung menyatakan bahwa dia naik permadani terbang—atau jet pribadi.) Pendek kata, dia antre menunggu giliran pendaftaran seperti manusia biasa lainnya.
Para mahasiswa tahun pertama itu datang dengan membawa ketenaran. Sejak lahir mereka sudah menjadi sorotan.
Tapi pada hari terakhir musim panas tahun 1954 ini, lebih dari seribu komet potensial lainnya menunggu untuk keluar dari kekelaman ketidakpopuleran, siap menerangi langit.
Di antara mereka adalah Daniel Rossi, Jason Gilbert, Theodore Lambros, dan Andrew Eliot. Mereka—dan orang kelima yang masih berada di belahan lain dunia—adalah tokoh-tokoh cerita ini.
13
DANIEL ROSSI
Aku mengira burung gereja adalah nada dari surga, Berkicau saat fajar di ranting pohon alder; Kubawa dia pulang, dalam sarangnya,
di kala senja; Dia menyanyikan kicaunya, tetapi tanpa sorak
sekarang,
Sebab aku tidak membawa serta sungai dan angkasanya.
RALPH WALDO EMERSON KELAS 1821
SEJAK awal masa kanak-kanaknya, Danny Rossi memendam satu ambisi besar—menyenangkan hati ayahnya. Dan satu mimpi buruk yang terus menghantuinya—bahwa ia tak akan pernah bisa.
Semula dia yakin ada alasan sah perihal ketidakpedulian Dr. Rossi. Bagaimana tidak, sebab Danny adalah adik Frank Rossi, gelandang belakang paling gigih dalam sejarah Orange County, California. Dan selama Frank Rossi terus mencetak gol dan menarik perhatian para pencari bibit unggul dari kalangan perguruan tinggi, Dad terlalu sibuk dengannya, sehingga tak sempat memerhatikan putranya yang lebih kecil.
Kenyataan bahwa Danny memperoleh nilai-nilai baik—yang tak pernah dicapai Frank—sama sekali tidak mengesankan ayahnya. Memang, mustahil ia bisa bersaing dengan kakaknya yang 188 senti (satu kepala lebih tinggi dari Danny), dan penampilannya di lapangan mampu membuat seluruh penonton di stadion bersorak gegap gempita seraya bangkit berdiri.
Apa yang bisa dilakukan Danny, si rambut merah yang berkacamata, untuk mendapatkan tepukan? Dia seorang, atau begitulah selalu ditegaskan ibunya, pemain piano yang berbakat. Hampir seperti anak ajaib. Ini tentu akan membuat sebagian besar orang i u.i
li
bangga. Namun, Dr. Rossi tak pernah sekali pun mendengarkannya main di depan umum.
Bisa dimengerti Danny merasa sangat cemburu. Dan kekesalannya lambat laun berkembang menjadi kebencian. Frank bukan dewa, Dad. Ia manusia, sama seperti aku. Cepat atau lambat, kau akan memerhatikan diriku.
Tapi kemudian pada tahun 1950, Frank, yang menjadi pilot pesawat tempur, tertembak jatuh di Korea. Kini tumpukan kecemburuan Danny berubah, melalui tahap-tahap yang memilukan, mula-mula berupa kepedihan lalu rasa bersalah. Sedikit-banyak, dia merasa bertanggung jawab. Sepertinya dia memang menginginkan kematian kakaknya.
Saat upacara dalam rangka mengabadikan nama Frank untuk lapangan atletik sekolah, ayahnya menangis tak terkendali. Danny memandang pria yang dikaguminya dengan penuh kesedihan. Dan dia bertekad untuk menghiburnya. Tapi, bagaimana dia bisa memberikan kegembiraan kepada ayahnya?
Arthur Rossi bahkan merasa terganggu setiap kali mendengar Danny berlatih piano. Maklumlah, hari-hari sibuk bagi seorang dokter gigi selalu bising dengan suara bor. Dia membangun studio berdinding gabus yang kedap suara di gudang bawah tanah untuk putra satu-satunya yang masih hidup itu.
Danny paham ini bukan menunjukkan kemurahan hati. Ayahnya cuma ingin terbebas dari pandangan maupun suara dirinya.
Namun, Danny bertekad untuk tetap berupaya meraih cinta ayahnya. Dia merasa olahraga merupakan satu-satunya jalan baginya untuk bangkit dari dasar ketidaksenangan ayahnya.
Hanya ada satu kemungkinan untuk anak lelaki dengan perawakan kurus seperti dirinya—lari. Dia menemui pelatih atletik dan dengan malu-malu meminta saran.
Kini setiap pagi dia bangun pukul enam, mengenakan sepatu olahraga, dan meninggalkan rumah untuk berlatih. Semangatnya yang menggebu-gebu pada minggu-minggu pertama membuat kakinya sakit dan bengkak. Tapi, dia bertahan. Dan semua kegiatan itu dirahasiakannya, sampai dia mempunyai sesuatu yang pantas untuk -lucritakan pada Dad.
I')
Pada hari pertama musim semi, pelatih memerintahkan seluruh anggota regu berlari sejauh satu mil untuk mengukur kebugaran mereka. Danny terheran-heran karena pada tiga perempat mil pertama ternyata dia bisa bertahan di belakang para pelari sejati.
Tapi tiba-tiba mulutnya terasa kering, dadanya panas membara. Dia mulai memperlambat larinya. Dari tengah lapangan, dia mendengar pelatihnya berteriak, "Tahan, Rossi. Jangan menyerah!"
Takut membuat kesal orang yang merupakan pengganti ayahnya, Danny menyeret tubuhnya yang sudah lelah menerobos putaran terakhir. Lalu dia mengempaskan diri ke lapangan rumput, kehabisan tenaga. Sebelum dia bisa mengatur napasnya, si pelatih sudah berdiri di hadapannya memegang stopwatch.
"Lumayan, Danny. Kau membuatku kaget—5 menit 48 detik. Kalau bertahan, kau bisa jauh lebih cepat lagi. Sebenarnya, dengan catatan waktu lima menit, terkadang kita bisa menyabet tempat ketiga dalam pertandingan. Pergilah ke meja perlengkapan, ambil seragam dan sepatu lari."
Merasa sudah mendekati tujuannya, untuk sementara Danny meninggalkan latihan pianonya pada sore hari agar bisa berlatih dengan regunya. Dan itu biasanya berarti dua atau tiga mil yang penuh siksaan.
Beberapa minggu kemudian, pelatih mengumumkan bahwa sebagai hadiah atas keuletannya, Danny akan menjadi pelari ketiga dalam pertandingan melawan Valley High.
Malam itu, dia memberitahu ayahnya. Kendati Danny mengingatkan bahwa dia mungkin akan kalah telak, Dr. Rossi berkeras hendak menyaksikan.
Sabtu sore itu, Danny mengenyam tiga menit yang membahagiakan dari masa kanak-kanaknya.
Sementara para pelari yang gugup berderet di tengah lintasan, Danny melihat orangtuanya duduk di baris pertama.
"Ayo, Nak," kata ayahnya hangat. "Tunjukkan pada mereka kehebatan keluarga Rossi!"
Kata-kata itu begitu memicu Danny sehingga dia lupa petunjuk pelatih untuk tidak menggebu-gebu dan memacu dirinya pada saat
16
awal. Sebaliknya, begitu pistol berbunyi dia melesat ke depan dan memimpin pada putaran pertama.
Ya Tuhan, pikir Dr. Rossi, anak itu seorang juara.
Celaka, pikir sang pelatih, anak itu sudah gila. Dia akan mati kehabisan tenaga.
Ketika menyelesaikan putaran pertama, Danny melempar pandangan ke ayahnya dan melihat apa yang tak pernah didapatnya selama ini—senyum kebanggaan bagi dirinya.
"Tujuh puluh satu detik," teriak sang pelatih. "Terlalu cepat, Danny. Sangat terlalu cepat."
"Bagus, Nak!" teriak Dr. Rossi.
Danny melayang, menembus empat ratus meter berikutnya di bawah sayap restu ayahnya.
Pada setengah pertandingan ia masih di tempat pertama. Tapi sekarang paru-parunya mulai memanas. Pada putaran berikut, dia mengalami kekurangan oksigen, dan apa yang oleh para pelari secara tepat disebut rigor mortis—tubuhnya kaku. Dia sekarat.
Lawannya melaju melampauinya dan memimpin jauh di depan. Dari seberang lapangan, dia mendengar ayahnya berteriak, "Ayo, Danny, tunjukkan kemampuanmu!"
Penonton bertepuk ketika dia akhirnya menyelesaikan larinya. Tepukan simpatik untuk menyambut pelari yang tersingkir dan tak punya harapan.
Pening karena kelelahan, dia memandang ke tribun. Ibunya tersenyum meyakinkan. Ayahnya sudah pergi. Rasanya bagaikan mimpi buruk.
Di luar dugaan, sang pelatih sangat gembira. "Rossi, aku belum pernah melihat seorang pemuda yang begitu bernyali. Catatan waktumu lima menit lima belas detik. Kau benar-benar berpotensi."
"Tidak di lintasan," sahut Danny sambil berjalan terhuyung-huyung. "Aku tak mau ikut lagi."
Dengan kecewa, ia sadar bahwa segala usahanya hanya makin mengeruhkan suasana. Sebab, penampilan yang memalukan itu ter-i.»11 i di lintasan lari Lapangan Frank Rossi.
Dengan perasaan terhina, Danny kembali pada kehidupannya Semula. Jajaran tuts piano menjadi saluran rasa frustrasinya. Dia
17
berlatih siang dan malam, menjatuhkan diri dari segala hal lain. Sejak usia enam tahun, dia sudah belajar piano pada seorang guru lokal. Tapi sekarang, wanita beruban yang terhormat itu dengan jujur mengatakan pada ibunya bahwa tak ada lagi yang bisa diberikannya kepada Danny. Ia menyarankan Gisela Rossi agar anaknya melakukan audisi di hadapan Gustave Landau—mantan solis dari Wina, yang sekarang melewatkan masa tuanya sebagai direktur musik di San Angelo Junior College.
Lelaki tua itu sangat terkesan dengan permainan Danny dan menerima Danny sebagai murid.
"Dr. Landau bilang, permainan Danny sangat baik untuk seumurnya," lapor Gisela Rossi kepada suaminya ketika makan malam. "Menurutnya anak itu bisa jadi pemusik profesional."
Mendengar laporan itu, Dr. Rossi hanya menjawab singkat, "Oh." Yang berarti dia tidak berniat mengeluarkan pendapat.
Dr. Landau seorang guru yang lembut tetapi sangat menuntut. Dan Danny murid yang ideal. Dia tidak hanya berbakat, tapi benar-benar mau dipacu. Kalau Dr. Landau menyuruhnya berlatih karya Czerny satu jam setiap hari, Danny akan melakukannya tiga jam.
"Apakah kemajuan saya cukup pesat?" tanyanya ingin tahu.
"Ah, Daniel, kau sebenarnya boleh mengurangi kerja kerasmu. Kau masih muda. Kau sebaiknya pergi keluar di sore hari dan bersenang-senang."
Tetapi Danny tak punya waktu—juga tidak tahu apa yang membuatnya "senang". Dia ingin cepat jadi dewasa. Seluruh' waktunya dilewatkannya di depan piano, jika tidak di sekolah.
Dr. Rossi bukannya tidak menyadari kecenderungan anaknya yang kurang bergaul. Dan itu membuatnya kesal.
"Dengar Gisela, itu tidak sehat. Dia selalu obsesif. Mungkin dia mencoba untuk mengimbangi kekurangan, atau entah apa. Anak lelaki seumurnya mestinya keluar dengan gadis-gadis. Frank, saat seusia Danny, sudah menjadi Cassanova sejati."
Art Rossi khawatir putranya akan menjadi... kurang jantan.
Sebaliknya, M'rs. Rossi yakin jika hubungan kedua lelaki itu lebih akrab, kekhawatiran suaminya akan lenyap.
18
Maka, seusai makan esok malamnya, dia meninggalkan mereka berdua. Agar mereka bisa omong-omong.
Suaminya jelas merasa canggung karena dia selalu resah kalau berbicara pada Danny.
"Semuanya beres di sekolah?" dia bertanya.
"Yeah, ya dan tidak," Danny menyahut—sama canggung seperti ayahnya.
Seperti prajurit infanteri yang gugup, Dr. Rossi cemas jangan-jangan dia akan memasuki medan ranjau. "Ada masalah apa?"
"Dad, semua orang di sekolah menganggapku agak aneh. Tapi, banyak pemusik sama seperti diriku."
Dr. Rossi mulai berkeringat. "Apa maksudmu, Nak?"
"Mereka sangat keranjingan musik. Aku juga begitu. Aku ingin menjadikan musik sebagai hidupku."
Mereka terdiam sejenak, sementara Dr. Rossi mencari-cari jawaban yang tepat.
"Kau memang anakku," dia akhirnya berkata, menghindari pernyataan kasih sayang yang terbuka.
"Terima kasih, Dad. Aku mau turun dan latihan sekarang."
Setelah Danny pergi, Art Rossi menuang minuman bagi dirinya dan berpikir, sebenarnya aku harus bersyukur. Keranjingan musik lebih baik daripada hal-hal lain yang mungkin digemari anak-anak muda seusia Danny.
Tak lama setelah ulang tahunnya yang keenam belas, Danny membuat debut sebagai pemain solo bersama Simfoni Junior College. Di bawah tongkat pimpinan gurunya, dia memainkan komposisi yang sulit, Konserto Piano Kedua karya Brahm, di auditorium yang penuh sesak. Orangtuanya juga hadir.
Ketika Danny melangkah ke panggung dengan wajah pucat ketakutan, kacamatanya menangkap cahaya lampu sorot kuno hingga nyaris membuatnya tak bisa melihat. Ketika akhirnya sampai ke piano, dia merasa lunglai.
Dr. Landau menghampirinya dan berbisik, "Jangan khawatir, Daniel, kau sudah siap."

Dari 

:

Otoy

Perihal

:

sing80

Pesan

:

Silahkan dikirim kesaya bung insya allah saya bersedia meluangkan sedikit waktu untuk menscaningnya
email saya ottoys@yahoo.com

Dari 

:

tolol

Perihal

:

jeblak

Pesan

:

nih komentar2 asal jeblak yang bikin gue gak bisa donlot lagi dari tirai kasih...... yang bilang banyak web lain... gak tau die itu ngambil dari mana ckckckck yang ngeributin kebijakan adminnya tirai kasih ... emang situ ada kontribusi... loe sama kaya gue cm tukang donlot udah terima aja jangan banyak ribut...

Dari 

:

ebooker

Perihal

:

ebook

Pesan

:

Seharusnya...
Dijelaskan scan by....
edit by......
yang ada cuma ebook by dewikz
Memangnya dia yg scan?
dian kan cuma bikin pdfnya sajah
tp ku tak pernah portesss maslah itu
tp kenapa taruh tempat lain diprotes?
anggap saja sebagai backup
gitu sajah kok repoot!!!!!

Dari 

:

sing80

Perihal

:

harsap

Pesan

:

emang di situ mampu selesaikan project ebook yang baru ?? kalau situ mampu nanti saya kirim kan buku buat bikin project e-book.. tapi yang jelas.. jangan kucing dalam karung

Dari 

:

dr.T

Perihal

:

Upload

Pesan

:

Tampaknya setiap ada yang berhasil upload file maka "The connection was reset" akan muncul berjam-jam. Ga bisa upload file yang lain :(

Dari 

:

harsap

Perihal

:

web tirai kasih

Pesan

:

Terserah yg punya dong, mau tutup, delete atau apapun itu.
Apalagi web lain masih banyak yang buka ....
Kurang apalagi ...

arsip : < F | < P | 1 2 3 ... 389 | N > | L >